Minggu, 04 November 2018

Ilmu sosial Dasar (sariwangi bangkrut)




Bagaimana Sariwangi bisa bangkrut ?

Berikut 5 fakta singkatnya:

1. Bukan Teh Celup
Perusahaan teh PT Sariwangi Agricultural Estate Agency berdiri sejak tahun 1962.
Kantornya berada di Gunung Putri Bogor Jawa Barat. Tahun 1970an, Sariwangi kemudian memperkenalkan revolusi minum teh lewat produk teh celup. Saat diluncurkan, produk teh yang sukses luar biasa hingga kini ini kemudian diberi merek Teh Celup Sariwangi. PT Sariwangi Agricultural Estate Agency bersama perusahaan afiliasinya, PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung, didera kesulitan. Dua perusahaan tersebut terjerat utang hingga Rp1,5 triliun ke sejumlah kreditur. Namun, produk ini kemudian diakuisisi oleh Unilever pada 1989.

2. Investasi Gagal
PT Sariwangi Agricultural Estate Agency kemudian mencoba berinvestasi di penggunaan teknologi untuk meningkatkan produksi perkebunan. Perusahaan ini mengembangkan sistem drainase atau teknologi penyiraman air dan telah mengeluarkan uang secara besar-besaran. Namun hasil yang didapat tidak seperti yang diharapkan. Sudah terlanjur utang besar, tapi pendapatan tak sesuai prediksi. Ujung-ujungnya, pembayaran cicilan utang tersendat. Sejumlah kreditur mulai mengajukan tagihan.

3. Utang Rp 1,5 Triliun
Masalah keuangan PT Sariwangi Agricultural Estate Agency bersama perusahaan afiliasinya PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung, mulai terendus pada tahun 2015. Dua perusahaan ini ternyata terjerat utang hingga Rp 1,5 triliun ke sejumlah kreditur. Tercatat, ada lima bank yang mengajukan tagihan pada tahun itu, yakni PT HSBC Indonesia, PT Bank ICBC Indonesia, PT Bank Rabobank International Indonesia, PT Bank Panin Indonesia Tbk, dan PT Bank Commonwealth.

4. Memohon Perdamaian
Sariwangi sempat mengajukan perdamaian. Dua perusahaan itu mengajukan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) kepada para kreditur.

5. Dinyatakan Pailit
Meski sudah diberi penundaan kewajiban pembayaran utang, namun hingga 2018, Sariwangi dan Maskapai Perkebunan Indorub tetap tak bisa menjalankan janjinya.


Pada Rabu (17/10/2018), Majelis Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mengabulkan permohonan pembatalan homologasi dari salah satu kreditur yakni PT Bank ICBC Indonesia terhadap Sariwangi Agricultural Estate Agency, dan Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung. Seiring dengan keputusan tersebut, dua perusahaan perkebunan teh ini resmi menyandang status pailit. "Mengabulkan permohonan pembatalan perdamaian atau homologasi dari pemohon (ICBC), menyatakan perjanjian homologasi batal, menyatakan termohon 1 (Sariwangi), dan termohon 2 (Indorub) pailit dengan segala akibat hukumnya," kata Ketua Majelis Hakim Abdul Kohar saat membacakan amar putusan, Selasa (16/10/2018) di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.


Apa hubungan sariwangi dan uniliver?
            PT Unilever Indonesia Tbk selaku pemegang merek atau brand teh Sariwangi memberikan penegasan bahwa produknya ini tetap berproduksi meski produsen teh, PT Sariwangi Agricultural Estate Agency dinyatakan pailit oleh PN Niaga Jakarta Pusat.
Head of Corporate Communications Unilever Indonesia Maria D Dwianto menjelaskan, Unilever Indonesia telah mengakuisisi atau membeli brand teh celup Sariwangi dari perusahaan bernama PT Sariwangi Agricultural Estate Agency.
"Jadi saya ceritakan hubungan Unilever, teh Sariwangi dengan PT Sariwangi Agricultural Jadi pada 1989, (produsen teh Sariwangi) jual brandnya itu ke Unilever Indonesia. Tapi mereka kemudian meminta izin untuk tetap memakai nama PT Sariwangi," tuturnya kepada Okezone, Kamis (18/10/2018). Dia melanjutkan, walaupun brand sudah dijual, PT Sariwangi Agricultural kemudian menjadi mitra kerja Unilever. Di mana perusahaan ini tetap memproduksi beberapa varian Sariwangi.
"Jadi walaupun brand sudah dibeli, PT Sariwangi itu menjadi mitra atau rekan bisnis kita yang melakukan produksi," tuturnya. Seiring berjalannya waktu, kemitraan Unilever dengan PT Sariwangi Agricultural pun berakhir. Maria menegaskan, bahwa kontrak ini disudahi sebelum produsen teh Sariwangi ini dinyatakan pailit oleh PN Niaga Jakarta Pusat.

Bagaimana peran unilever terhadap sariwangi?
  PT Sariwangi itu menjadi mitra atau rekan bisnis uniliver Teh Sariwangi tetap ada karena milik Unilever. Karena informasi untuk menghormati semua pihak, kami tidak bisa bicara detail kapan kerjasamanya berakhir. Jadi rahasia. Tapi yang jelas itu terjadi sebelum putusan pengadilan, di mana kami sudah tidak bermitra lagi.

Bagaimana kondisi sariwangi terhadap produknya?
Unilever sebagai perusahaan yang telah mengakuisisi nama produk pun menjelaskan bahwa produk SariWangi akan tetap beredar. Unilever menjelaskan bahwa perusahaan tersebut akan tetap memproduksi teh SariWangi dan tidak terpengaruh atas PT SAEA yang dinyatakan pailit. Berkaitan dengan berita yang beredar mengenai salah satu brand kami yaitu SariWangi, Unilever sebagai pemilik brand ingin menyampaikan: Unilever tetap memproduksi SariWangi, sehingga masyarakat Indonesia tetap bisa menikmati teh SariWangi. Lebih jauh, Unilever Indonesia menjelaskan bahwa PT. Sariwangi Agricultural Estate Agency (SAEA) dan PT. Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung (MPISW) bukanlah bagian dari PT. Unilever Indonesia Tbk. Sementara mengenai PT. Sariwangi Agricultural Estate Agency (SAEA) dan PT. Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung (MPISW), keduanya bukan merupakan bagian ataupun anak dari PT. Unilever Indonesia Tbk. Dua perusahaan yang kini dinyatakan pailit tersebut memang pernah menjalin kerjasama dengan PT. Unilever Indonesia Tbk. 
Namun kini sudah tak ada kerjasama dalam bentuk apapun lagi dan nama produk sudah diakuisisi.  Pendeknya, PT. SAEA bukanlah produsen dari teh SariWangi yang masih akan tetap beredar di pasaran.  Sehingga pailitnya perusahaan tersebut tidak mempengaruhi produksi teh merek SariWangi. Produksi teh SariWangi akan menjadi tanggungjawab dari Unilever Indonesia sebagai pemilik dari merek dagang tersebut. Dalam kata lain, yang bankrut bukanlah merek teh SariWangi, namun PT. SAEA yang pernah memasok komoditas daun teh untuk teh SariWangi yang merek dagangnya sudah menjadi milik Unilever Indonesia. Pihak Unilever Indonesia pun mengajak agar masyarakat terus mengonsumsi teh SariWangi bersama keluarga.




 http://makassar.tribunnews.com/2018/10/18/5-fakta-pabrik-teh-sariwangi-pailit-atau-bangkrut-termasuk-nilai-utang-yang-jadi-penyebab?page=4

Sabtu, 03 November 2018

METODE PENELITIAN KUANTITATIF



Mengapa melakukan penelitian kuantitatif?
Tujuan dari penelitian kuantitatif adalah untuk menentukan hubungan antar variabel dalam sebuah populasi. Desain penelitian kuantitatif ada dua macam yaitu deskriptif dan eksperimental. Studi kuantitatif deskriptif melakukan pengukuran hanya sekali. Artinya relasi antar variabel yang diselidiki hanya berlangsung sekali. Sedangkan studi eksperimental melakukan pengukuran antar variabel pada sebelum dan sesudahnya untuk melihat hubungan sebab-akibat dari fenomena yang diteliti. Berikutnya akan dipaparkan karakteristik penelitian kuantitatif.

Apa saja karakteristik penelitian kuantitatif?

·         Proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen yang terstruktur, seperti kuesioner, lembar survei atau polling.
·         Hasil analisis didasarkan pada sampel yang merupakan representasi dari populasi.
·         Studi yang sama bisa diulangi dikemudian hari untuk mencapai level reliabilitas atau tingkat kepercayaan yang tinggi.
·         Semua aspek yang diperlukan untuk studi telah dipersiapkan secara matang sebelum proses pengumpulan data, termasuk instrumen penelitian.
·         Data berbentuk numerik, angka atau statistik
·         Peneliti menggunakan alat bantu analisis seperti software komputer untuk mengolah data.
·         Orientasi utama dari penelitian kuantitiatif adalah mengklasifikasi, menghitung, dan mengonstruksikan model statistik untuk menjelaskan apa yang sedang ditelitinya.
·         Penelitian kuantitatif mengutamakan objektivitas data dalam mengkaji suatu fenomena sosial.
Dalam penelitian kuantitatif, data set dikumpulkan, diolah dan dianalisis untuk dicari hubungan antar variabel yang diteliti. Variabel yang digunakan bisa dua atau lebih. Dalam ilmu sosial biasanya lebih dari dua karena variabel selalu berada dalam setting sosial yang bersifat kompleks. Sebagai contoh, kita akan meneliti hubungan antara tempat tinggal dengan pendapatan. Hipotesis yang dibangun adalah, lingkungan urban memiliki peluang pada pendapatan yang lebih tinggi. Pada kenyatannya, pendapatan tinggi tidak ditentukan semata-mata oleh tempat tinggal. Ada variabel lain yang sangat memungkinkan, misal tingkat pendidikan, keturunan, dan lain sebagainya. Konsekuensi dari penelitian kuantitatif adalah relasi antar variabel bisa saja signifikan secara statistik, namun secara sosial tidak signifikan. Lalu apa kelebihan metode penelitian kuantitatif dan apa kekurangannya?

Berikut ini beberapa kelebihan dan kekurangan metode penelitian kuantitatif.

Kelebihan metode penelitian kuantitatif:

◊ Mendukung studi ilmu sosial yang cakupannya makro karena bisa melibatkan subjek penelitian dalam jumlah besar. Banyaknya subjek baik individu atau kelompok yang terlibat mendukung proses generalisasi.
◊ Memiliki modal untuk meraih objektivitas hasil penelitian. Secara umum, penelitian kuantitatif didesain untuk menghasilkan penjelasan yang sifatnya umum atau general dari suatu fenomena. Untuk mendapat penjelasan yang general ini, beberapa variabel digunakan.
◊ Mampu mengaplikasikan angka rata-rata dari suatu perhitungan sehingga desain penelitian bisa direplikasi dan dianalisis relevansinya di tempat lain.
◊ Mampu melalukan studi perbandingan secara objektif.
◊ Potensi bias yang sifatnya personal bisa dihindari dengan cara peneliti menjaga jarak dengan partisipan yang diteliti dan dengan cara menggunakan software komputer ketika menganalsis.

Kekurangan metode penelitian kuantitatif:

◊ Seringkali mengabaikan detail konteks sosial yang diteliti.
◊ Pendekatannya statis dan rigid sehingga tidak fleksibel ketika peneliti di lapangan.
◊ Memiliki potensi bias yang sifatnya struktural karena rumusan masalah yang dibuat biasanya merefleksikan kepentingan peneliti tanpa mempertimbangkan permasalahan yang sebenarnya dihadapi oleh partisipan.
◊ Hasil penelitian seringkali kurang detail dalam menjelaskan perilaku dan motivasi tindakan individu.
◊ Peneliti bisa saja mengumpulkan data yang lingkupnya sempit dan superfisial.
◊ Hasil penelitian memiliki kualitas penjelasan yang terbatas pada deskripsi numerik dan kurang detail dalam mengelaborasikan aspek persepsi manusia.
◊ Hasil penelitian cenderung menggambarkan hasil laboraturium ketimbang hasil nyata apa yang terjadi lapangan.

Kerangka dasar penelitian kuantitatif

Pada hakikatnya tidak ada kerangka atau desain riset kuantitatif yang dianggap paling benar. Kerangka penelitian selalu luwes, yang terpenting adalah sistematis dan tetap menjaga substansi penelitian. Namun demikian, selalu ada unsur yang menjadi dasar desain penelitian. Misalnya, rumusan masalah. Tidak ada penelitian tanpa rumusan masalah. Berikut ini kerangka dasar yang umum digunakan dalam penelitian kuantitatif yang dikutip dari buku ”Doing Quantitative Research in the Social Sciences: An Integrated Approach to Research Design” tulisan Thomas R. Black:

Pendahuluan

Pendahuluan dalam riset kuantitatif umumnya berisi latar belakang penelitian. Informasi dalam penelitian juga meliputi:
Rumusan masalah: Pada bagian ini peneliti menyatakan dengan jelas apa masalah yang ingin diinvestigasi. Formulasi rumusan masalah biasanya berbentuk kalimat tanya atau bisa juga pernyataan yang mengandung pertanyaan. Rumusan masalah ketika diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris adalah ”research question”, atau pertanyaan penelitian.
Literatur review: Peneliti mereview beberapa literatur akademik yang dianggap relevan dengan topik, kemudian melakukan sintesis. Jika perlu, peneliti mencatat literatur apa saja yang metodologinya mirip untuk komparasi dan referensi kedepannya nanti. Perlu juga dijelaskan pada bagian ini, bagaimana penelitian yang dilakukan berkontribusi terhadap kekurangan penelitian yang sudah ada sebelumnya.
Kerangka teoritis: Peneliti mendeskripsikan teori yang digunakan atau hipotesis penelitiannya. Jika diperlukan, peneliti juga mendeskripsikan terminologi teoritis yang sulit dipahami untuk membantu pembaca memahami latar belakang penelitiannya. Umumnya penelitian kuantitatif menjelaskan apa hipotesisnya ketimbang apa teorinya.

Metodologi

Pada bagian ini, Peneliti harus menjelaskan tujuan dari penelitiannya dan bagaimana tujuan tersebut bisa dicapai. Penjelasan tentang metodologi yang digunakan akan membantu pembaca melakukan penilaian terhadap kualitas penelitiannya. Semakin detail informasi yang diberikan semakin baik. Bagian metodologi juga meliputi:
Populasi dan sampling: Peneliti menjelaskan darimana memperoleh data yang digunakan. Adakah data yang dibuang atau tidak dilibatkan? Jika ada, mengapa?
Pengumpulan data: Peneliti mendeskripsikan proses pengumpulan data dan mengidentifikasi variabel yang diukur. Perlu ditegaskan apakah data yang diperoleh merupakan data yang sudah tersedia atau peneliti mencari sendiri, misalnya dengan survei. Oleh karena tidak ada data set yang sempurna, makan batasan atau limitasi dalam metode pengumpulan data juga perlu dideskripsikan di sini.
Analisis data: Peneliti mendeskripsikan proses analisis data secara jelas. Pada umumnya, dekripsi tentang teknik penghitungan statitstik dan software yang digunakan juga ditampilkan pada bagian ini.

Hasil atau temuan penelitian

Temuan penalitian harus ditulis secara objektif. Dalam riset kuantitatif, sudah lumrah peneliti menampilkan hasil penelitian secara visual dengan grafik, tabel, atau diagram untuk membantu pembaca memahami data secara mudah. Namun perlu digarisbawahi bahwa data visual merupakan suplemen dari deskripsi tekstual yang ditampilkan. Pada bagian ini, peneliti memberikan:
Analisis statistik: Bagaimana data dianalisis dan apa temuannya? Temuan merupakan deskripsi dari data yang ditampilkan secara tekstual dan atau visual. Hati-hati dalam mendeskripsikan, jangan sampai peneliti melakukan interpretasi temuan. Interpretasi temuan penelitian disampaikan pada bagian selanjutnya.
Contoh Penelitian Kuantitatif
Contoh Penelitian Kuantitatif yang dipaparkan di sini dimaksudkan untuk menjadi referensi pembaca dalam mencari inspirasi riset kuantitatif yang akan dilakukan. Postingan ini juga didedikasikan untuk memberi gambaran dasar pada pembaca mengenai seperti apa penelitian kuantitatif itu dan dimana perbedaannya dengan penelitian model lainnya seprti kualitatif atau campuran.

Contoh penelitian kuantitatif

Dilema Pendidikan dan Pendapatan di Kabupaten Boyolali
Evaluasi Program Pemberdayaan Usaha Mina Pedesaan pada Masyarakat Pesisir Jawa Tengah
Partisipasi Masyarakat Dalam Program Bank Sampah: Model Logit
Transformasi Struktur Sosial dan Sektor Unggulan di Kabupaten Bumiayu Periode 2010-2015
Transformasi Pekerja Informal ke Arah Formal: Analisis Deskriptif dan Regresi Logistik
Partisipasi Tenaga Kerja Perempuan dalam Meningkatkan Pendapatan Keluarga
Pengaruh Perkembangan Sektor Perdagangan, Hotel Dan Restoran Kota Pekalongan Terhadap Sektor Pertanian Daerah Lainnya di Jawa Tengah
Analisis Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Pengentasan Kemiskinan Di Maluku: Analisis FEM Data Panel
Dampak Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS)Terhadap Tingkat Putus Sekolah Di Indonesia: Analisis DID
Analisis Dampak Pembangunan Jalan Tol Terhadap Pertumbuhan Usaha Ekonomi Rakyat Di Teminabuan Provinsi Papua Barat (Studi Kasus Di Distrik Teminabuan, Kari Dan Aini)
Analisis Efektivitas Pelaksanaan Program Raskin Di Kota Banda Aceh
Perbandingan Ketepatan Model Logit Dan Probit Dalam Memprediksi Kecenderungan Tingkat Hunian Kamar Usaha Akomodasi Di Purworejo 2017
Pertumbuhan Penduduk, Konversi Lahan, dan Ketahanan Pangan di Kabupaten Kebumen
Pengaruh Konflik Peran, Kompetensi, dan Motivasi Pegawai Terhadap Kinerja Pegawai Inspektorat Kota Jakarta
Peran Kepuasan Pelanggan Dalam Memediasi Hubungan Pengalaman Berbelanja Secara Online Dengan Perilaku Pasca Pembelian
Analisis Dinamika Kemiskinan (Poverty Dynamics) Di Sorong Selatan Berdasarkan Data Susenas Panel 2013-2017
Modelling Demand Side Kelas Menengah Pemuda Kota Surakarta
Pengaruh Strategi Pemasaran Terhadap Penjualan Batubara Pada PT. Dinamo Kuantiva Jak
Konsumsi Rokok Berdasarkan Karakteristik Individu di Indonesia
Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Dan Disparitas Pendapatan Antardaerah Terhadap Kesejahteraan Masyarakat Provinsi Jawa Timur
Analisis Indeks Pembangunan Manusia Pada 5 Wilayah Hasil Pemekaran Di Sulawesi Tenggara
Dampak Serikat Buruh Terhadap Tingkat Upah Buruh Sektor Swasta di Indonesia
Analisis Pengaruh Jumlah Tanggungan Keluarga, Umur, Dan Status Pekerjaan Terhadap Pendapatan Keluarga Wanita Single Parent
Hubungan Ketenagakerjaan Dan Perubahan Struktur Sosial-Ekonomi terhadap Kesejahteraan Masyarakat
Kontribusi Pelaksanaan Ritual Hindu Terhadap Kesempatan Kerja Dan Kesejahteraan Masyarakat Di Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jaw timur
Keterkaitan Lembaga Keuangan Mikro (LKM), Usaha Mikro dan Kecil (UMK) serta Kemiskinan di Indonesia Tahun 2017




SUMBER: http://sosiologis.com/contoh-penelitian-kuantitatif
https://skripsiyuk.com/artikel-skripsiyuk-com/kelebihan-dan-kekurangan-penggunaan-metode-penelitian-kuantitatif-dan-kualitatif/

Sabtu, 27 Oktober 2018

Lembaga-lembaga Audit Sistem Informasi di Indonesia

LEMBAGA-LEMBAGA AUDIT SISTEM INFORMASI DI INDONESIA
  • BPK RI





BPK RI didirikan tahun 1946 yang bertugas untuk melakukan audit yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara dan tanggung jawab yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga negara lain seperti Bank Indonesia, BUMN, BUMD, Dewan Pelayanan Publik, dan lembaga lain yang mengelola keuangan negara. BPK RI menyerahkan hasil audit kepada DPR, DPD, dan DPRD sesua dengan kewnangan masing-masing.
  • Keuangan BPKP (Badan Pengawasan dan Pembangunan)

BPKP didirikan tahun 2006. BPKP bertugas mengendalikan keuangan dan pengawasan pembangunan nasional serta meningkatkan pendapatan negara dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengeluaran anggaran pemerintah nasional dan regional. Tugas lain BPKP adalah mengevaluasi penerapan sistem pengendalian internal untuk mendeteksi dan menghalangi korupsi, serta menginvestigasi penyelewengan keuangan.
  • LPAI

LPÄI Lembaga Pengembangan Auditor Internal adalah lembaga yang concern terhadap pengembangan SDM bidang audit internal. Sebagai salah satu divisi training dari Proesdeem Indonesia lembaga konsultan manajemen yang sejak 1995 memfokuskan kegiatannya pada pelatihan manajemen — LPÄI menyelenggarakan pelatihan internal audit dan fraud audit secara lengkap, terprogram-berkesinambungan, serta kurikulum berkualitas. Pelatihan yang diselenggarakan oleh LPAI senantiasa dievaluasi dan diupdate — mengacu pada perkembangan pengetahuan dan praktek bisnis paling mutakhir — dimana benchmarknya adalah lembaga-lembaga internal audit dan fraud audit yang sudah dikenal baik reputasinya di dunia.
Selain itu program pelatihan yang diselenggarakan oleh LPAI didukung oleh tenaga instruktur berpengalaman, baik sebagai instruktur maupun sebagai auditor ataupun praktisi manajemen lainnya serta memiliki background pendidikan S2 dan Ph.D. dari dalam dan luar negeri. Sebagian besar instruktur LPAI adalah praktisi audit yang memiliki sertifikat keahlian atau profesi seperti CIA, CFE, CISA, dan sebagainya.

Standar dan panduan untuk Sistem Informasi

  • ISACA
ISACA sebagai lembaga independen, nonprofit, asosiasi global, terlibat dalam pengembangan, penerapan dan penggunaan pengetahuan dan pengalaman yang diterima secara global mengenai sistem informasi. Sebelumnya dikenal sebagai Information Systems Audit and Control Association. Namun kini hanya menggunakan akronim ISACA, untuk merefleksikan cakupan yang luas dari IT governance.
ISACA didirikan oleh individu yang mengenali kebutuhan untuk sumber informasi terpusat dan bimbingan dalam bidang tumbuh kontrol audit untuk sistem komputer. ISACA memiliki lebih dari 115.000 konstituen di seluruh dunia dan telah memiliki kurang lebih 70.000 anggota yang tersebar di 140 negara. Anggota ISACA terdiri dari antara lain auditor sistem informasi, konsultan, pengajar, profesional keamanan sistem informasi, pembuat perundangan, CIO, serta auditor internal. Jaringan ISACA terdiri dari sekitar 170 cabang yang berada di lebih dari 60 negara, termasuk di Indonesia.
Gelar CISA ini dikeluarkan oleh ISACA (Information Systems Audit and Control Association). Selain CISA, ISACA juga mengeluarkan sertifikasi atu gelar CISM(Certified Information Systems Manager) dan CGEIT (Certified in the Governance of Enterprise IT).
  • IIA COSO
COSO kepanjangan dari Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission.
COSO ini ada kaitannya sama FCPA yang dikeluarkan sama SEC dan US Congress di tahun 1977 untuk melawan fraud dan korupsi yang marak di Amerika tahun 70-an. Bedanya, kalo FCPA adalah inisiatif dari eksekutif-legislatif, nah kalo COSO ini lebih merupakan inisiatif dari sektor swasta.
Definisi internal control menurut COSO
Suatu proses yang dijalankan oleh dewan direksi, manajemen, dan staff, untuk membuat reasonable assurance mengenai:
  • Efektifitas dan efisiensi operasional
  • Reliabilitas pelaporan keuangan
  • Kepatuhan atas hukum dan peraturan yang berlaku
Menurut COSO framework, Internal control terdiri dari 5 komponen yang saling terkait, yaitu:
  • Control Environment
  • Risk Assessment
  • Control Activities
  • Information and communication
  • Monitoring
Di tahun 2004, COSO mengeluarkan report ‘Enterprise Risk Management – Integrated Framework’, sebagai pengembangan COSO framework di atas. Dijelaskan ada 8 komponen dalam Enterprise Risk Management, yaitu:
  • Internal Environment
  • Objective Setting
  • Event Identification
  • Risk Assessment
  • Risk Response
  • Control Activities
  • Information and Communication
  • Monitoring

  • ISO 
ISO 9001 adalah standar internasional yang diakui untuk sertifikasi Sistem Manajemen Mutu (SMM). SMM menyediakan kerangka kerja bagi perusahaan dan seperangkat prinsip-prinsip dasar dengan pendekatan manajemen secara nyata dalam aktifitas rutin perusahaan untuk terciptanya konsistensi mencapai kepuasan pelanggan.
Pengguna ISO 9001:
Setiap jenis organisasi dapat mengambil manfaat dari penerapan atas persyaratan-persyaratan ISO 9001 berdasarkan delapan prinsip-prinsip manajemen :
  1. Organisasi yang berfokus pada pelanggan
  2. Kepemimpinan
  3. Keterlibatan orang
  4. Pendekatan terhadap proses pendekatan yang sistematik pada manajemen
  5. Pembuatan keputusan berdasarkan
  6. Pendekatan nyata
  7. Hubungan dengan pemasok yang saling menguntungkan
  8. Peningkatan berkesinambungan
Manfaat dari ISO 9001
Manfaat-manfaat yang diperoleh dari pendaftaran ISO 9001 adalah:
  1. Kepuasan pelanggan – dengan penyampaian produk secara konsisten dalam memenuhi persyaratan-persyaratan pelangga.
  2. Mengurangi biaya operasional – dengan peningkatan berkesinambungan pada proses-proses dan hasil dari efisiensi operasiona.
  3. Peningkatan hubungan pada pemegang kepentingan – termasuk para staf, pelanggan dan pemasok
  4. Persyaratan kepatuhan hukum – dengan pemahaman bagaimana persyaratan suatu peraturan dan perundang-undangan tersebut mempunyai pengaruh tertentu pada suatu organisasi dan para pelanggan anda.
  5. Peningkatan terhadap pengendalian manajemen resiko – dengan konsistensi secara terus-menerus dan adanya mampu telusur suatu produk dan pelayana.
  6. Tercapainya kepercayaan masyarakat terhadap bisnis yang dijalankan – dibuktikan dengan adanya verifikasi pihak ketiga yang independen pada standar yang diakui.
  7. Kemampuan untuk mendapatkan lebih banyak bisnis – khususnya pemenuhan spesifikasi-spesifikasi pengadaan yang membutuhkan sertifikasi sebagai suatu persyaratan untuk melakukan suplai barang dan jasa.

ANALISIS RESIKO



Analisa resiko adalah bagian dari proses audit untuk menganalisa jenis resiko dan kerentanan, manfaatnya ialah agar auditor dapat mengambil langkah langkah untuk meminimalisasi resiko yang ada.
Cara-cara untuk mengatasi resiko ialah:
  1. Avoid Risk , dengan melakukan terminasi resiko, awalnya ketika resiko sudah di ukur, maka kemudian dilakukan pengaturan aktifitas yang akan memicu resiko tersebut. Misalnya saja penggunaan laptop karyawan bank yang disediakan semua dari pihak bank dimana mereka bekerja untuk menghindari adalnya malware, infeksi virus, tojan ataupun pencurian data data mereka.
  2. Reduce Risk  dengan meminimalkan kemungkinan terjadinya resiko, caranya adalah dengan menambahkan kontrol tambahan, contohnya adalah pemasangan perangkat firewall untuk mengurangi resiko adanya penyerangan baik dari attacker maupun dari virus.
  3. Accept Risk adalah menerima resiko yang ada dengan mempersiapkan management penanganannya. Contohnya ialah dengan mempersiapkan DRC ( Disaster Recovery Center) untuk menghindari dari adanya gempa bumi di server utama.
  4. Transfer Risk adalah meletakkan resiko pada pihak ketiga, Contohnya ialah dengan memakai jasa asuransi kebakaran.

JENIS JENIS AUDIT


Audit Internal





            Internal Auditing adalah proses pemeriksaan internal atas pengendalian yang dilakukan manajemen apakah berjalan dengan baik serta efektif, hingga unit unit yang menjalankan sudah sesuai dengan prosedur prosedur yang telah ditetapkan.
Pihak yang memeriksa adalah auditor internal, artinya yang memeriksa itu adalah "karyawan" perusahaan itu sendiri, untuk tujuan pihak manajemen, tujuan internal perusahaan, tidak untuk pihak eksternal.
Jadi misalnya manajemen mempunyai rencana katakanlah rencana A, yang ditugasi menjalani rencana A ini adalah anak buahnya si manajemen itu, nah apakah anak buahnya yang banyak sekali ini kerjanya becus apa tidak?

Efektif apa tidak?
Jangan jangan rencana A nya tidak berjalan baik?
Jangan jangan rencana A hasilnya tak maksimal? jangan jangan anak buahnya tidak menjalankan dengan semestinya dan jangan jangan yang lainnya. 
Disinilah fungsinya internal audit, internal audit dilakukan agar semua rencana yang sudah disusun dan diputuskan dieksekusi dengan baik agar bisa berjalan dan tidak menyimpang agar tujuan si manajemen dengan rencananya bisa terwujud 

Pihak yang melakukan pemeriksaaan ini di sebut Internal Auditor, bukan eksternal auditor.
Beda lagi, eksternal auditor itu suruhannya yang punya perusahaan untuk memeriksa si manajemen, dari luar perusahaan yang independen harusnya, untuk lengkapnya supaya pembahasan ini tidak out of topic. 

Tujuan Internal Audit
Hiro Tugiman [2006:11]

Internal audit bertujuan untuk membantu anggota entitas organisasi supaya bisa melaksanakan tanggung jawab dengan efektif.
Internal Audit akan menganalisis, mengajukan beberapa saran dan penilaian. pemeriksaaan juga mencakup pengawasan efektif dgan biaya yg wajar.

Sukrisno Agoes [2004:222]

Audit Internal bertujuan untuk membantu manajemen dalam melaksanakan tanggung-jawabnya dengan menganalisa, menilai dan memberiksaran serta komentar tentang aktivitas yang diperiksa.

Untuk mencapai tujuan internal audit, ini yang harus dilakukan oleh auditor internal:

  • Memastikan kebijakan, rencana serta prosedur yang telah ditetapkan sebelumnya oleh manajmen untuk ditaati
  • Menilai kebaikan, mengembangkan pengedalian secara efektif dengan biaya yang wajar, juga mengetahui bagus tidaknya sistem pengendalian yang ada. baik pengendlian internal, pengendalian manajemen maupun pengendalian oprasional yang lain.
  • Memastikan harta perusahaan dipertanggung-jawabkan serta dilindungi dari terjadinya misal kehilangan, kecurangan, disalahgunakan, pencurian dan lain sebagainya
  • Memberi saran perbaikan operasional untuk lebih efektif dan efisien lagi.
  • Menilai mutu kualitas pekerjaan.oleh bagian bagian perusahaan yang telah dibebankan oleh manajemen.
  • Memberi kepastian bahwa data data yang diolah dalam perusahaan bisa dipercaya

Audit Sistem Informasi


Audit sistem informasi adalah proses pengumpulan dan penilaian bukti – bukti untuk menentukan apakah sistem komputer dapat mengamankan aset, memelihara integritas data, dapat mendorong pencapaian tujuan organisasi secara efektif dan menggunakan sumberdaya secara efisien”. Ron Weber (1999,10) mengemukakan bahwa audit sistem informasi adalah :
” Information systems auditing is the process of collecting and evaluating evidence to determine whether a computer system safeguards assets, maintains data integrity, allows organizational goals to be achieved effectively, and uses resources efficiently”.

Tujuan Audit Sistem Informasi
Tujuan Audit Sistem Informasi dapat dikelompokkan ke dalam dua aspek utama dari ketatakelolaan IT, yaitu :
a. Conformance (Kesesuaian) – Pada kelompok tujuan ini audit sistem informasi difokuskan untuk memperoleh kesimpulan atas aspek kesesuaian, yaitu :Confidentiality (Kerahasiaan), Integrity (Integritas), Availability (Ketersediaan) danCompliance (Kepatuhan).
b. Performance (Kinerja) – Pada kelompok tujuan ini audit sistem informasi difokuskan untuk memperoleh kesimpulan atas aspek kinerja, yaitu :Effectiveness(Efektifitas), Efficiency (Efisiensi), Reliability (Kehandalan).
Tujuan audit sistem informasi menurut Ron Weber tujuan audit yaitu :
1. Mengamankan asset
2. Menjaga integritas data
3. Menjaga efektivitas sistem
4. Mencapai efisiensi sumberdaya.

Audit Kecurangan


            Kecurangan menggambarkan setiap upaya penipuan yang disengaja, yang dimaksudkan untuk mengambil harta atau hak orang atau pihak lain. Dalam konteks audit laporan keuangan, kecurangan didefinisikan sebagai salah saji laporan keuangan yang disengaja.
Jenis – jenis Kecurangan Audit
Kategori kecurangan audit atas laporan keuangan terbagi menjadi dua, yaitu pelaporan keuangan yang curang dan penyalahgunaan aktiva.
Pelaporan keuangan yang curang adalah salah saji atau pengabain jumlah jumlah atau pengungkapan yang disengaja dengan maksud menipu para pemakai laporan keuangan tersebut.
Penyalahgunaan aktiva adalah kecurangan yang melibatkan pencurian aktiva entitas. Pencurian aktiva perusahaan seringkali mengkhawatirkan manajemen, tanpa memperhatikan materialitas jumlah yang terkait, karena pencurian bernilai kecil menggunung seiring dengan berjalannya waktu.
Sebab – sebab Kecurangan
Segitiga kecurangan atau biasa disebut dengan fraud triangle yang diuraikan dalam SAS 99 (AU 316) adalah sebagai berikut:
Insentif/tekanan. Manajemen atau pegawai lain merasakan insentif atau tekanan melakukan kecurangan.
Situasi yang membuka kesempatan bagi manajemen atau pegawai untuk melakukan kecurangan.
Sikap/rasionalisasi. Ada sikap, karakter, atau serangkain nilai-nilai etis yang membolehkan manajemen atau pegawai untuk melakukan tindakan yang tidak jujur, atau mereka berada dalam lingkungan yang cukup menekan yang membuat mereka maerasionalisasi tindakan yang tidak jujur.
Menilai Resiko Kecurangan
SAS 99 meberikan pedoman bagi auditor dalam menilai resiko kecurangan. Auditor harus mempertahankan tingkat skeptisme profesional auditor atau bisa disebut juga dengan tidak mengasumsikan bahwa manajemen tidak jujur tetapi juga tidak mengasumsikan kejujuran absolut. Skeptisme profesional itu antara lain:
Pikiran yang selalu mempertanyakan. SAS 99 menekankan agar mempertimbangkan kerentanan klien terhadap kecurangan, tanpa mempedulikan bagimana keyakinan auditor tentang kemungkinan kecurangan serta kejujuran dan integritas manajemen.
Evaluasi kritis atas bukti audit. Yakni mengungkapkan informasi atau kondisi lain yang mengindikasikan bahwa kemungkinan telah terjadi salah saji yang material akibat kecurangan, auditor harus menyelidiki permasalahannya secara mendalam, untuk memperoleh bukti tambahan sabagaimana yang diperlukan, dan berkonsultasi dengan anggota tim lainnya.
Komunikasi diantara tim audit. SAS 99 mewajibkan tim audit mengadakan diskusi untuk berbagai wawasan diantara anggota tim audit yang lebih berpengalaman serta berbagi pendapat.
Pengajuan pertanyaan kepada manajemen. SAS 99 mengharuskan auditor untuk mengajukan pertanyaan spesifik tentang kecurangan dalam setiap audit.
Faktor – faktor. SAS 99 mengharuskan auditor mengevaluasi apakah faktor-faktor resiko kecurangan mengindikasikan adanya insentif atau tekanan untuk melakukan kecurangan, kesempatan untuk berbuat curang, atau sikap rasionalisasi yang digunakan untuk membenarkan tindakan yang curag.
Prosedur analitis. Auditor harus melaksanakan prosedur analitis selama tahap perencanaan dan penyelesaian audit untuk membantu mengidentifikasi transaksi peristiwa tidak biasa yang mungkin mengindikasikan adanya salah saji yang material dalam laporan keuangan.
Informasi lain. Auditor harus mempertimbangkan semua informasi yang sudah diperoleh dalam setiap tahap atau bagian audit ketika menilai resiko kecurangan.
Pengawasan Tata Kelola Korporasi Untuk Mengurangi Resiko Kecurangan
Berikut adalah bebrapa cara untuk mengurangi resiko kecurangan:
Menetapkan tone at the top.
Menciptakan lingkungan kerja yang positif.
Memperkerjakan dan mempromosikan pegawai yang tepat.
Mengidentifikasi dan mengukur resiko kecurangan.
Mengurangi resiko kecurangan.
Memantau program dan pengendalian pencegahan kecurangan.
Respons Resiko Kecurangan
Manajemen sudah mempunyai program yang dirancang untuk mencegah, menghalangi dan mendeteksi kecurangan, serta pengendalian yang dirancang untuk mencegah, menghalangi, dan mendeteksi kecurangan, serta pegendalian yang dirancang untuk mengurangi resiko resiko kecurangan yang spesifik. Respons auditor terhadap resiko kecurangan meliputi hal-hal berikut:
Mengubah pelaksanaan audit secara keseluruhan.
Merancang dan melaksanakan prosedur audit untuk menangani resiko kecurangan.
Meracang dan melaksanakan prosedur untuk menangani pengabaian pengendalian oleh manajemen.
Bidang Resiko Kecurangan yang Spesifik
Resiko pelaporan keuangan yang curang atas pendapatan. Sebagai konsekuensi dari seringnya kecurangan dalam pelaporan keuangan yang melibatkan pengakuan pendapatan.
Tanda – tanda peringatan kecurangan pendapatan. Dua diantara tanda yang paling bermanfaat dalam hal peringatan kecurangan pendapatan adalah prosedur analitis dan perbedaan dokumenter.
Penyalahgunaan penerimaan yang melibatkan pendapatan. Meskipun penyalahgunaan penerimaan kas jarang sematerial pelaporan pendapatan yang curang, kecurangan semacam ini bisa berdampak buruk terhadap organisasi karena aktiva langsung hilang.
Kelalain mencatat penjualan. Salah satu kecurangan yang paling sulit dideteksi adalah apabila penjualan tidak dicatat dan kas dari penjualan itu dicuri.
Pencurian penerimaan kas setelah penjualan dicatat. Jika pembayaran dari seorang pelanggan dicuri, penagihan berkala atas rekening yang belum dibayar akan dengan
Resiko pelaporan keuangan yang curang untuk persediaan. Persediaan fiktif telah menjadi pusat dari bebarapa kasus besar pelaporan keuangan yang curang.
Tanda – tanda peringatan kecurangan persediaan. Serupa dengan penipuan yang melibatkan piutang usaha, banyak tanda peringatan atau gejala yang berpotensi menunjukkan kecurangan persediaan.
Resiko pelaporan keuangan yang curang untuk untuk utang usaha. Perusahaan mungkin melakukan upaya yang disengaja untuk merendah sajikan utang usaha dan melebih sajikan laba.
Penyalahgunaan dalam siklus akuisisi dan pembayaran. Kecurangan dalam siklus akuisisi adalah si pelaku melakukan pembayaran kepada vendor fiktif dan menyimpan uang itu dalam rekening fiktif.
Aktiva tetap. Aktiva tetap sebagai akun neraca yang besar bagi banyak perusahaan, seringkali didsarakan pada penilaian yang ditetapkan secara subjektif.
Beban penggajian. Penggajian jarang menjadi beban yang signifikan bagi pelaporan keuangan yang curang. Tetapi, perusahaan mungkin saja melebihsajikan persediaan dan laba bersih dengan mencatat biaya tenaga kerja berlebih dalam persediaan.
Tanggung jawab bila auditor dicurigai ada kecurangan.
Apabila dicurigai ada kecurangan, auditor akan mengumpulkan informasi tambahan untuk menentukan apakah kecurangan itu memang ada. Untuk mengumpulkan informasi tambahan auditor bisa memperolehnya dengan cara mengajukan pertanyaan. Berikut ini teknis – teknis pengajuan pertanyaan:
Pertanyaan informasial. Biasanya auditor menginginkan informasi dari narasumber mengenai peristiwa atau proses dimasa lalu atau yang sedang berjalan saat ini.
Pertanyaan penilaian. Untuk menguatkan atau menyangkal informasi sebelumnya.
Pertanyaan interogatif. Digunakan untuk memastikan apakah setiap individu berbohong atau sengaja tidak mengungkapkan pengetahuan yang penting tentang fakta, peristiwa, atau situasi penting, terutama bila auditor curiga narasumber sedang mengelabui atau menyembunyikan informasi.
Evaluasi respons atas pengajuan pertanyaan. Agar informasi yang dibutuhkan didapatkan secara efektif.
Teknik menyimak. Auditor harus terus memperhatikan dengan mempertahankan kontak mata, mengangguk sebagai tanda setuju, atau memperlihatakan tanda-tanda pemahaman lain.
Mengamati petunjuk perikalu. Auditor yang mahir dalam menggunakan pengajuan petanyaan akan mengevaluasi petunjuk lisan dan non lisan ketika mendengarkan pihak yang diwawancarai.

Audit Eksternal


            Pada suatu perusahaan kita mungkin sering mendengar tentang audit, baik audit eksternal maupun audit internal. Audit terutama yang eksternal pada umumnya dilakukan untuk memenuhi persyaratan hukum. Sementara orang yang berhak untuk melakukan audit ini adalah auditor eksternal yang kadang kala juga memberikan jasanya untuk melakukan tugas tambahan seperti misalnya menyelidiki kasus penipuan laporan keuangan pada perusahaan atau organisasi tertentu.
Auditing dapat kita definisikan sebagai sebuah proses sistematis yang bertujuan untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti dengan obyektif tentang suatu laporan peristiwa ekonomi. Tujuan dari dilaksanakannya auditing ini adalah menentukan tingkat keakuratan antara laporan tersebut dengan point-point kriteria yang telah ditentukan termasuk dalam penyajian hasilnya kepada pihak yang berkepentingan. 
Sementara dari sisi auditor independen sebagai pelaku auditing, pemeriksaan ini merupakan analisa obyektif atas laporan keuangan organisasi atau perusahaan tertentu. Hasil pemeriksaan akan membuktikan apakah laporan keuangan sebagai pertanggungjawaban merupakan data yang realistis dan menggambarkan kondisi keuangan serta hasil usaha perusahaan atau organisasi yang bersangkutan secara wajar.
Tujuan dari audit eksternal
Bila dijelaskan secara detail tujuan dari audit eksternal adalah untuk mengetahui apakah laporan keuangan tahunan perusahaan atau organisasi menyajikan kondisi yang riil tentang keadaan finansial perusahaan atau organisasi terkait. Selain itu apakah dana milik instansi tersebut telah benar-benar dimanfaatkan sesuai dengan tujuan yang telah disepakati atau dimuat dalam konstitusi. Sementara itu kita juga tidak dapat mencampuradukkan tujuan dari auditing sebagaimana point-point berikut ini:
Hal-hal di bawah ini bukanlah tujuan dari audit eksternal

·         Menyiapkan laporan keuangan

·         Menyatakan bahwa sistem kontrol keuangan intern yang selama ini dijalankan merupakan sistem yang efektif

·         Memberikan catatan yang menyatakan “tidak terdapat masalah”

·         Menyelidiki bawah laporan keuangan 100%  dibuat tanpa ada kesalahan

Alasan mengapa audit eksternal perlu untuk dilakukan adalah, agar masyarakat dapat mengakses informasi tentang penanganan sumber daya ekonomi umum karena masyarakat memang memiliki hal untuk itu. Karena tak semua orang, terutama bagi para awam kesulitan memahami transaksi keuangan dalam bentuk laporan yang rumit, sehingga dibutuhkan jasa seorang profesional untuk memeriksa informasi sekaligus melakukan analisis dalam laporan keuangan tersebut. Untuk memperkecil peluang terjadinya kesalahan di masa mendatang sehingga manajemen perlu melakukan verifikasi akurasi laporan keuangan.
Laporan keuangan yang benar akan membantu menambah kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan atau organisasi terkait, termasuk untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Penyajian laporan keuangan dengan benar sesuai standar adalah kewajiban di mata hukum, dan sebagai warga negara yang baik selayaknya kita patuh terhadap hukum dan peraturan yang telah diatur. Dan terakhir, audit eksternal akan membantu mengidentifikasi bila sistem yang dijalankan selama ini masih kurang efektif dan efisien.

SUMBER:
https://datakata.wordpress.com/2015/01/17/jenis-jenis-audit/
https://jurnalmanajemen.com/audit-internal/
https://id.wikipedia.org/wiki/Audit_keuangan